Half of Universe [Pt.1 : Pusaka Rahasia Kerajaan]
Pt.1 : Pusaka Rahasia Kerajaan
Tubuh Elle tertarik bangkit dari tidurnya. Ia terduduk
cepat dengan nafas yang terengah. Mata sayunya menatap lurus pada siluet
dirinya yang terpampang pada cermin di depan ranjang. Tangan kanan Elle
mengusap separuh wajahnya dengan putus asa, "Lagi? Yang benar saja,"
ucap Elle hampir tanpa suara. Setelahnya, Elle bergerak bangkit dari duduknya. Mimpi yang baru saja membangunkannya tadi, sama sekali bukan bunga
tidur.
Jam di sisi dinding bertedak pelan. Menunjukkan
pukul dua dini hari, sementara Elle tidak lagi ingin melanjutkan tidurnya.
Wanita itu memutuskan untuk menuju dapur. Dengan perlahan, Elle meneguk air
mineral yang telah ia tuangkan ke dalam gelas. Mengecap rasa hambar yang
melewati kerongkongannya dengan cepat. "Mimpi buruk lagi?" ucap
seorang pemuda yang berdiri tenang di ujung ruangan. Elle hanya menatap dengan
mata sayunya sejenak, lalu berlalu begitu saja dari dapur.
Namun, ketika tubuh mereka bersisian, "Ren, itu
hanya ingatan masa lalu. Otakku ini sepertinya memang didesain agar tidak bisa
melupakan yang satu itu," ujar Elle santai.
Ren, pemuda berambut sehitam arang itu menatap
punggung Elle yang telah berlalu dengan pandangan mengawang. Ia tidak bisa
mengasihani sosok tangguh itu walau Ren ingin. Ellesmire Russoer yang penyendiri
dan berhati dingin, Ren paham dengan baik bagaimana sepinya bila ia menjalani
kehidupan seperti Elle. Akan tetapi, Elle juga adalah sosok begitu tangguh dan
kokoh. Tidak ada yang bisa menyentuhnya dan merubuhkan eksistensinya.
~~~~~~~~~~~~~
"Selamat Ulang Tahun!!" seruan itu
membanjiri Arthur di hari jadinya yang ke-28 tahun. Pria itu tersenyum lebar
menyambut ketiga temannya. Walau di usia yang beranjak tua, Arthur sebenarnya
tidak lagi begitu ambil pusing tentang perayaan semacam ini. Namun, menyaksikan
ketiga temannya yang dengan sengaja mengambil libur dan menyiapkan makan malam
di restoran kesukaan Arthur sambil membawakan kue ulang tahun, Arthur tentu
tidak punya pilihan lain selain menyambut mereka dengan baik. Tidak seperti
tahun-tahun sebelumnya, ulang tahun Arthur tidak hanya dihadiri oleh ketiga
temannya, tapi juga kekasih mereka.
Arthur meletakkan gelasnya di atas meja dengan kasar
selepas menegak bir dalam sekali teguk. Putra bungsu keluarga Bisfon itu
mendengus melihat lovey-dovey di hadapannya, seakan keenam orang ini
tidak menganggap dirinya yang sedang ulang tahun, sepertinya perayaan seorang
diri tidak jauh berbeda. “Ck, kalau kalian datang hanya untuk memamerkan
kemesraan, bukankah lebih baik aku pulang saja. Aku ini sibuk, kalau kalian mau
tau,” omel Arthur seraya meraih kamera filmnya untuk digantungkan kembali di
leher.
Melihat Arthur mengomel dengan nada yang menggebu-gebu
membuat Lucian tertawa. Pria pucat satu itu menarik tangan Arthur untuk duduk
kembali di kursinya, “Ayolah, kau bahkan masih sibuk di hari ulang tahunmu?
Yang benar saja,” celetuk Lucian masih dengan sisa tawanya.
“Kalau kau muak, cari saja seorang kekasih. Jadi,
nanti kita bisa groupdate, kan?” pungkas Naevis, kekasih Lucian. Arthur
mendengus mendengar saran asal dari gadis muda di depannya. “Bicara seakan itu
hal mudah saja,” ucap Arthur sembari melemparkan tubuhnya pada sandaran sofa
yang ia duduki. Mata kecokelatannya mengawang pada atap restoran yang nampak
begitu jauh.
“Lagipula, aku tidak punya waktu untuk bermain-main
seperti itu. Aku masih punya urusan dengan si tua bangka itu.”
Ucapan Arthur seketika mengubah suasana di sekitarnya.
Ketujuhnya bungkam dalam suasana mencekam yang siap melahap habis. “Hahaha,
benar. Lalu, apa pula maksudnya groupdate itu, yang memiliki hubungan
itu kan hanya kau dan Lucian,” cetus Aria dengan tawa canggungnya. Wanita berusia
seperempat abad itu mencoba mencairkan suasana dengan menyenggol tubuh pria di
sampingnya, Hexa, seperti memberi kode untuk melanjutkan pembicaraan ke arah
yang lebih bersahabat.
Tetapi, alih-alih mengiyakan, Hexa justru menarik
nafas berat. Tangannya merogoh tas kumalnya hanya untuk menarik sebuah buku
kecil yang sama kumalnya. Andursha, yang termuda di antara mereka menjadi yang
pertama menyadarinya. “Buku itu… Pusaka rahasia Kerajaan Marsilvie, bukan?”
tebak And dengan suara kecilnya.
Mendengar nama kerajaan disebutkan, si putra Bisfon
kembali menegakkan tubuhnya. Ikut serta menatap lekat buku dengan sampul usang
yang lembaran kertasnya telah kekuningan itu. Berikutnya, Rozalin yang sedari
tadi hening akhirnya menunjukkan ketertarikan. “Di mana kau mendapatkannya? Arthur
bilang buku itu sudah lama lenyap, bukan?”
“Ya, kupikir juga begitu. Tapi, seminggu yang lalu
saat aku dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan misi, aku bertemu dengan
seorang tetua dari desa sebelah. Kalian tau kasus kematian masal kelompok “Skull
Devil”?” pungkas Hexa yang diangguki oleh keenam lainnya.
“Yang kematiannya masih misterius itu, kan?” ucap
Aria.
“Hm. Buku ini ditemukan di lokasi kejadian. Menurut si
tetua itu, pusaka ini adalah kutukan abadi. Skull Devil mungkin ingin mencoba melakukan
sesuatu terhadap benda ini, namun berakhir terbunuh oleh kutukannya,” jelas Hexa
pada teman-temannya. Mendengar itu, Andursha mengerutkan kening, “Lalu, kenapa
kau membawa benda terkutuk itu kemari? Kalau untuk diperlihatkan pada kami,
bukankah artinya buku ini berhubungan dengan “Rusoar”?”
Hexalion kemudian meletakkan buku tersebut di atas
meja. Membuka pada halaman pertama yang menunjukkan kertas usang kosong
berwarna cokelat kekuningan. “Awalnya aku tidak ingin peduli dengan buku ini.
Terlebih terdapat kutukan di dalamnya, tetapi hari itu aku secara tidak sengaja
menyalurkan heal-ku dan menyentuh sedikit kutukannya,” Hexa meletakkan telapak
tangan kanannya di atas buku tersebut, “Lalu, ini yang kutemukan,” ujarnya
sembari memperlihatkan tulisan tangan di pojok kanan bawah kertas.
“Sebastian & El?” eja Arthur pelan. Jemarinya yang
saling bertaut menggenggam erat. Sedangkan, Lucian yang sejak tadi tidak
terlalu memahami alur pembicaraan kemudian berkata, “Kau yakin ini pusaka rahasianya?
Kenapa lebih terlihat seperti buku diary romansa?”
Arthur menggeleng, “Tidak, Sebastian itu… Apa mungkin
yang disebutkan dalam buku ini adalah sang putra mahkota itu? Yang terbunuh
sehari sebelum penobatannya. Apa pusaka ini menyimpan seluruh rahasia
kematiannya, itu sebabnya kerajaan kita ingin menyingkirkan benda ini?”
Komentar
Posting Komentar